BELA SUNGKAWA

 Keluarga Besar

Dinas Peternakan dan Perikanan kabupaten Kediri

Ikut Berduka Cita atas Meninggalnya Bapak Bangsa

KH. ABDURRAHMAN WAHID

Semoga Arwah Beliau Diterima DisisiNya.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

EXPONAK 2009 KAB. KEDIRI

EXPONAK 2009 Kabupaten Kediri adalah suatu kegiatan yang didesain khusus untuk membangkitkan kepedulian Pemerintah Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia melalui kesadaran konsumsi protein hewani. Selain itu juga untuk membangkitkan gairah berusaha dibidang peternakan guna mencapai target Swasembada Daging pada tahun 2010. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri beserta stakeholder bidang peternakan dan kesehatan hewan. EXPONAK 2009 Kabupaten Kediri dikemas dalam bentuk bazar, Kontes Ternak Sapi dan Kambing, Temu Inseminator (Petugas Inseminasi Buatan) se Kabupaten Kediri, Lomba mewarnai bagi anak Taman Kanak-Kanak dan Panggung Hiburan, sehingga akan melibatkan seluruh masyarakat peternakan di Kabupaten Kediri selama 4 hari berturut-turut. Kemudian Acara Puncak akan dihadiri oleh Bapak Bupati Kediri beserta Pejabat dilingkungan Kabupaten Kediri dan Masyarakat peternakan di Jawa Timur.

Salah satu peserta kontes ternak

KONTES TERNAK

Kontes ternak ternak diikuti oleh 151 ekor sapi dan 56 ekor kambing PE yang merupakan perwakilan dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Kediri

JUARA KONTES TERNAK KAB. KEDIRI 2009

1. Sapi Pedet Betina Crossing/Persilangan hasil IB :

Juara I   :  KARMAN dari Desa Sidomulyo Kecamatan Semen

Juara II  :  MURYO dari Jerukgulung Kecamatan Kandangan

Juara III :  KAPAN DARSONO dari Desa Cendono Kecamatan Kandat

2. Sapi Calon Induk Crossing/Persilangan hasil IB

Juara I   :  SAHRI dari Sambirobyong Kecamatan Kayen Kidul

Juara II  :  SUBIANTO dari Desa Grogol Kecamatan Grogol

Juara III :  SAMURI dari Desa Pelem Kecamatan Pare

3. Sapi Induk Crossing/Persilangan hasil IB,

Juara I   :  PUJIANTO dari Desa Jagul Kecamatan Ngancar

Juara II  :  KAPAN DARSONO dari Desa Cendono Kecamatan Kandat

Juara III :  BENO dari Desa Tunge Kecamatan Wates

4. Sapi Bakalan Kereman Crossing/Persilangan hasil IB

Juara I   :  H. ANDRI dari Desa Rembang Kecamatan Ngadiluwih

Juara II  :  AGUS GUNAWAN dari Purwoakerto Kecamatan Ngadiluwih

Juara III :  PURWANTO dari Desa Darungan Kecamatan Pare

5. Sapi Kereman Crossing/Persilangan hasil IB

Juara I   :  H. ANDRI dari Desa Rembang Kecamatan Ngadiluwih

Juara II  :  H. ANDRI dari Desa Rembang Kecamatan Ngadiluwih

Juara III :  H. AMANU dari Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten

6. Sapi Calon Induk Peranakan Ongole

Juara I   :  SUKARMAN dari Desa Wonotengah Kecamatan Purwoasri

7. Sapi Induk Peranakan Ongole

Juara I   :  SLAMET dari Desa Parang Kecamatan Banyakan

Juara II  :  PRIANTO dari Desa Bangkok Kecamatan Gurah

Juara III :  SARONO dari Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu

8. Kambing Betina Peranakan Ettawa (PE)

Juara I   :  SUYONO dari Desa Gadungan Kecamatan Puncu

Juara II  :  YUDI dari Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo

Juara III :  SUYONO dari Desa Gadungan Kecamatan Puncu

9. Kambing Jantan Peranakan Ettawa (PE)

Juara I   :  MOH. FAISHOL dari Desa Bedug Kecamatan Ngadiluwih

Juara II  :  TATAG dari Karangtalun Kecamatan Kras

Juara III :  SUNARYO dari Desa Ngletih Kecamatan Kandat

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

PROGRAM PETERNAKAN DAN PERIKANAN KEDIRI

Program Pembangunan Jangka Menengah Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri pada dasarnya merupakan implementasi dukungan terhadap pembangunan ekonomi Pemerintah Kabupaten Kediri. Oleh karena itu Program Pembangunan Jangka Menengah yang meliputi bidang Peternakan dan Perikanan dituangkan dalam Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra – SKPD) Tahun 2006-2010 merupakan program pembangunan yang kegiatan utamanya diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat peternakan dan perikanan diwilayah pedesaan melalui kegiatan-kegiatan yang diarahkan langsung dapat menyentuh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternakan dan perikanan di pedesaan. Menyadari bahwa dukungan pembangunan peternakan dan perikanan Kabupaten Kediri untuk mewujudkan Program Pemerintah Kabupaten Kediri yaitu dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi melalui “ Pemberdayaan dan Peningkatan Sistem Ekonomi Kerakyatan ” maka pembangunan peternakan dan perikanan lebih difokuskan pada 4 (empat) program yang saling mendukung yaitu :

 (1) Program Ketahanan Pangan dengan sasaran untuk meningkatkan ketersediaan komoditas pangan asal ternak dan ikan dalam jumlah cukup dan kualitas yang memadai serta untuk meningkatkan produktivitas unggulan peternakan dan perikanan.

(2) Program pengembangan Agribisnis dengan sasaran untuk meningkatkan kelancaran mekanisme pasar serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan usaha peternakan dan perikanan sesuai potensi Sumberdaya Alam sehingga pada akhirnya akan menghasilkan produk-produk unggulan yang kompetitif di pasaran.

(3) Program Peningkatan Kesejahteraan petani ternak dan ikan dengan sasaran untuk mengembangkan kemampuan usaha petani ternak dan ikan serta membangun sistem kelembagaan yang tangguh.

(4) program Pengembangan Sumber daya , Sarana dan Prasarana peternakan dan perikanan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia petugas peternakan dan perikanan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat serta peningkatan sarana dan prasarana peternakan dan perikanan untuk mendukung perkembangan usaha peternakan dan perikanan di Kabupaten Kediri. Untuk menyelaraskan berbagai aspek kegiatan pembangunan peternakan dan perikanan di Kabupaten Kediri secara fungsional diterjemahkan melalui program-program prioritas sebagai berikut :

1. Optimalisasi dan pemanfaatan hijauan makanan ternak.

2. Pengembangan sistem pembibitan ternak besar dan ternak kecil.

3. Pengembangan sistem pembibitan ternak unggas.

4. Penanggulangan dan pemberantasan penyakit pada ternak dan ikan.

5. Peningkatan Kesehatan Masyarakat Veteriner.

6. Pengembangan sistem budidaya perikanan.

7. Intensifikasi budidaya peternakan dan perikanan.

 8. Pewilayahan komoditas unggulan.

9. Pengembangan sistem standarisasi produk asal ternak dan ikan

10. Peningkatan ketrampilan petani ternak dan ikan. 11. Pemberdayaan kelembagaan Organisasi 12. Pemberdayaan usaha peternakan dan perikanan.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

PERANAN KONSUMSI PROTEIN HEWANI

 

Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia. Negara Malaysia yang pada tahun 1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia, terutama dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Dalam periode tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83) (Rusfidra, 2002).

 Studi Monckeberg (1971) dalam Rusfidra (2005c) menunjukkan adanya hubungan tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Ironisnya mereka pada umumnya berasal dari keluarga tidak mampu (miskin).

 Kondisi ini merupakan gejala yang umum terjadi di negara-negara berkembang sebagaimana pengamatan Todaro (2000), “Penduduk miskin di berbagai negara dengan cepat mempelajari bahwa pendidikan merupakan cara yang ampuh untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Namun dalam kenyataannya, anak-anak miskin merupakan orang yang pertama dikeluarkan dari dari kelas karena mengantuk akibat kekurangan gizi, dan orang yang pertama gagal ujian Bahasa Inggris karena mereka tidak punya kesempatan belajar di rumah seperti anak keluarga kaya”.

 Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Shiraki et al. (1972) dalam Rusfidra (2005c) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.

 Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit (sel darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan dalam mempercepat regenerasi sel darah merah.

 Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005e).

Pengembangan Ternak Lokal

Dalam rangka memacu pertumbuhan produksi peternakan nasional, seharusnya perhatian lebih difokuskan pada usaha peternakan rakyat dan ternak lokal yang tersebar mulai dari perkotaan sampai perdesaan. Menurut Martojo (2003) jumlah rumahtangga peternakan sekitar 4,5 juta rumahtangga (RTP). Bentuk peternakan yang ada pun sebagian besar merupakan peternakan rakyat, yaitu sapi potong (99,6 %), kambing/domba (99,99 %), kerbau (88,7 %), sapi perah (91,1 %), ayam ras petelur (82,4 %), ayam buras dan itik (100 %) (Soehadji, 1992 dalam Rusfidra, 2004)

Pada umumnya ternak-ternak yang dipelihara pada usaha peternakan rakyat adalah ternak lokal. Ternak lokal merupakan sumber daya ternak yang sudah lama dipelihara peternak pedesaan dan berperan penting dalam sistem usahatani di perdesaan. Usaha peternakan rakyat inilah yang seharusnya menjadi basis pengembangan peternakan nasional. Pengembangan komoditi ternak yang berbasis bahan pakan impor sangat rawan dijadikan sebagai basis pembangunan peternakan nasional. Alasannya adalah tiga komponen bahan pakan (jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan) merupakan bahan impor yang menguras devisa. Itulah sebabnya usaha peternakan berbahan baku impor (ayam ras pedaging dan petelur) mengalami kontraksi yang tajam ketika krisis ekonomi dan bangkrutnya secara massal para peternak ayam ras

Peranan Sektor Peternakan daam Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan natural. Kemiskinan struktural sering disebut kemiskinan buatan, misalnya akibat regulasi yang tidak berkeadilan dan tananan organisasi yang tidak kondusif. Kemiskinan natural biasanya disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM dan terbatasnya potensi sumber daya alam yang ada disekitar mereka.

Akibat mutu SDM yang rendah (misalnya karena tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pengetahuan terbatas dan terbatasnya networking) sehingga mereka sulit mengembangkan potensi diri dan berkompetisi dengan kompetitornya. Dengan kondisi yang serba terbatas tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bekerja di bidang pertanian secara umum (tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan peternakan).

Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam struktur perekonomian nasional. Pada tahun 2003 sektor pertanian mampu menyerap 46 persen tenaga kerja. Karena itu, adalah wajar bila sektor pertanian dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan nasional. Disamping mampu menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan pokok yang murah, bergizi tinggi dan terjangkau, sektor pertanian jga telah berperan penting sebagai sumber pendapatan, sebagai bentuk investasi dan menyediakan lapangan kerja.

Konstribusi sektor pertanian terhadap pendapatan domestik brutto (PDB) riil tahun 2003 adalah sebesar 15,83 persen, berada di bawah sektor industri (26,07 persen) dan perdagangan (15,95 persen). Angka tersebut menujukkan betapa urgennya dan strategisnya sektor pertanian dalam pembanguan nasional.

Sub sektor peternakan memainkan peran penting dalam pembangunan pertanian. Kontribusi sub-sektor peternakan terhadap sektor pertanian dan produk domestik brutto pada tahun 2001 masing-masing adalah 11% dan 1,9% (Utoyo, 2002). Karenanya tidaklah mengherankan jika sub sektor peternakan diharapkan sebagai sektor pertumbuhan baru, baik dalam bidang pertanian maupun pertumbuhan ekonomi nasional. Cukup signifikannya sumbangan sub sektor peternakan antara lain disebabkan oleh jumlah populasi tenak yang besar, pemilikannya yang sangat luas dan peranannya yang multiguna.

Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditi yang memiliki banyak manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan pangan yang bergizi tinggi dan dikonsumsi anggota rumah tangga. Ternak berperan penting dalam program ketahanan pangan rumah tangga petani, terutama bagi petani ternak di pedesaan. Sebagian ternak juga menghasilkan tenaga yang dapat digunakan dalam mengolah lahan pertanian.

Ternak juga berperan sebagai sumber uang tunai, sebagai sumber pendapatan dan sebagai salah satu bentuk investasi (tabungan hidup) yang dapat diuangkan sewaktu dibutuhkan. Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan keagamaan: misalnya pelaksanaan ibadah qurban tentu juga membutuhkan ternak sapi, domba ataupun kambing. Ternak lokal tersebut tidak hanya pemilikannya yang tersebar luas di tangan petani pedesaan, juga telah berperan penting dalam masa krisis ekonomi. (Nurhafid, S.Pt. disunting dari berbagai sumber)

Pengembangan Ternak Lokal

Dalam rangka memacu pertumbuhan produksi peternakan nasional, seharusnya perhatian lebih difokuskan pada usaha peternakan rakyat dan ternak lokal yang tersebar mulai dari perkotaan sampai perdesaan. Menurut Martojo (2003) jumlah rumahtangga peternakan sekitar 4,5 juta rumahtangga (RTP). Bentuk peternakan yang ada pun sebagian besar merupakan peternakan rakyat, yaitu sapi potong (99,6 %), kambing/domba (99,99 %), kerbau (88,7 %), sapi perah (91,1 %), ayam ras petelur (82,4 %), ayam buras dan itik (100 %) (Soehadji, 1992 dalam Rusfidra, 2004)

Pada umumnya ternak-ternak yang dipelihara pada usaha peternakan rakyat adalah ternak lokal. Ternak lokal merupakan sumber daya ternak yang sudah lama dipelihara peternak pedesaan dan berperan penting dalam sistem usahatani di perdesaan. Usaha peternakan rakyat inilah yang seharusnya menjadi basis pengembangan peternakan nasional. Pengembangan komoditi ternak yang berbasis bahan pakan impor sangat rawan dijadikan sebagai basis pembangunan peternakan nasional. Alasannya adalah tiga komponen bahan pakan (jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan) merupakan bahan impor yang menguras devisa. Itulah sebabnya usaha peternakan berbahan baku impor (ayam ras pedaging dan petelur) mengalami kontraksi yang tajam ketika krisis ekonomi dan bangkrutnya secara massal para peternak ayam ras

Peranan Sektor Peternakan daam Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan natural. Kemiskinan struktural sering disebut kemiskinan buatan, misalnya akibat regulasi yang tidak berkeadilan dan tananan organisasi yang tidak kondusif. Kemiskinan natural biasanya disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM dan terbatasnya potensi sumber daya alam yang ada disekitar mereka.

Akibat mutu SDM yang rendah (misalnya karena tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pengetahuan terbatas dan terbatasnya networking) sehingga mereka sulit mengembangkan potensi diri dan berkompetisi dengan kompetitornya. Dengan kondisi yang serba terbatas tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bekerja di bidang pertanian secara umum (tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan peternakan).

Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam struktur perekonomian nasional. Pada tahun 2003 sektor pertanian mampu menyerap 46 persen tenaga kerja. Karena itu, adalah wajar bila sektor pertanian dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan nasional. Disamping mampu menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan pokok yang murah, bergizi tinggi dan terjangkau, sektor pertanian jga telah berperan penting sebagai sumber pendapatan, sebagai bentuk investasi dan menyediakan lapangan kerja.

Konstribusi sektor pertanian terhadap pendapatan domestik brutto (PDB) riil tahun 2003 adalah sebesar 15,83 persen, berada di bawah sektor industri (26,07 persen) dan perdagangan (15,95 persen). Angka tersebut menujukkan betapa urgennya dan strategisnya sektor pertanian dalam pembanguan nasional.

Sub sektor peternakan memainkan peran penting dalam pembangunan pertanian. Kontribusi sub-sektor peternakan terhadap sektor pertanian dan produk domestik brutto pada tahun 2001 masing-masing adalah 11% dan 1,9% (Utoyo, 2002). Karenanya tidaklah mengherankan jika sub sektor peternakan diharapkan sebagai sektor pertumbuhan baru, baik dalam bidang pertanian maupun pertumbuhan ekonomi nasional. Cukup signifikannya sumbangan sub sektor peternakan antara lain disebabkan oleh jumlah populasi tenak yang besar, pemilikannya yang sangat luas dan peranannya yang multiguna.

Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditi yang memiliki banyak manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan pangan yang bergizi tinggi dan dikonsumsi anggota rumah tangga. Ternak berperan penting dalam program ketahanan pangan rumah tangga petani, terutama bagi petani ternak di pedesaan. Sebagian ternak juga menghasilkan tenaga yang dapat digunakan dalam mengolah lahan pertanian.

Ternak juga berperan sebagai sumber uang tunai, sebagai sumber pendapatan dan sebagai salah satu bentuk investasi (tabungan hidup) yang dapat diuangkan sewaktu dibutuhkan. Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan keagamaan: misalnya pelaksanaan ibadah qurban tentu juga membutuhkan ternak sapi, domba ataupun kambing. Ternak lokal tersebut tidak hanya pemilikannya yang tersebar luas di tangan petani pedesaan, juga telah berperan penting dalam masa krisis ekonomi. (Nurhafid, S.Pt. disunting dari berbagai sumber)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

BIRAHI PADA SAPI, BAGAIMANA MENGETAHUINYA…?

PENDAHULUAN

 Salah satu faktor manajemen reproduksi yang penting adalah heat detection
 Heat detection merupakan salah satu kunci pokok dalam pelaksanaan perkawinan
 Manajemen pemeliharaan ternak bibit, tujuan utamanya adalah calf, dimana calving interval diharapkan bisa 13 – 14 bulan agar dapat menguntungkan.

BIRAHI, APA ITU ….?

 Birahi atau estrus atau heat didefinisikan sebagai periode dimana ternak betina mau menerima kehadiran pejantan untuk kopulasi
 Dalam program perkawinan alam maipun artificial, seorang manager reproduksi harus mampu mengenali tanda-tanda birahi dan faktor-faktor yang mendorong berlangsungnya tingkah laku birahi yang normal

MENGAPA TERJADI BIRAHI … ?

 Pada dasarnya pemunculan tingkah laku birahi secara sempurna merupakan pengaruh interaksi antara hormon estrogen dan indra.
 Dalam hal ini terlibat suatu gabungan indra penciuman, pendengaran dan indra penglihatan
 Indra perasa/sentuhan pun menjadi pentin pada sapi betina yang melangsungkan perkawinan, melalui gigitan, jilatan, endusan (percumbuhan sebelum kopulasi
TINGKAH LAKU BIRAHI SAPI

 Tanda birahi yang paling terpercaya adalah apabila betina diam dinaiki pejantan atau oleh betina lainnya dalam sekelompok sapi. (sapi birahi terkesan homoseksual)
 Keadaan ini disebut sebagai standing heat, karena prilaku ini adalah bersifat fisik, sehingga dapat diketahui secara visual
 Ekor diangkat, adanya pangkal ekor yang diangkat merupakan pertanda bahwa seekor ternak sapi dalam keadaan birahi
 Aktif, enggan istirahat, sapi betina tidak mau diam dan nervous
 Vulva bengkak dan berwarna kemerahan, pembengkaan vulva akibat peningkatan aliran darah yang membesarkan pembuluh darah disekitar vulva
 Lendir bening dari vulva, dimana lendir ini sering kali melekat pada ekor, kaki belakang, atau bahkan keatas punggung
 Jika terjadi lendir yang kemerahan menunjukkan birahi muncul 1 atau 2 hari sebelumnya

 Satu hal yang dianjurkan untuk pengamatan birahi adalah dengan melepaskan sapi betina pada padang penggembalaan deteksi birahi, yang diisi dengan sekelompok ternak
 Padang penggembalaan dibuat tidak terlalu sempit agar memungkinkan sapi betina kesana kemari bebas merumput, dengan demikian seorang operator dapat mengadakan deteksi birahi dengan mudah

ALAT BANTU DETEKSI

 Catatan Perkawinan, Catatan aktifitas reproduksi merupakan alat bantu terbaik dimana dengan catatan tersebut akan memberikan petunjuk betina mana yang mengalami birahi pertama kali
 Chinball Marker, Alat yang diletakkan pada rahang bawah pejantan yang sudah divasektomi

 Deteksi Elektronik, alat ini dikenal dengan sebutan Heatwatch, yang dibungkus dengan kain dan ditempel pada pangkal ekor, sehingga jika betina tersebut dilepas dan birahi, maka alat tersebut akan mengirimkan transmisi ke komputer yang telah diset di ruangan

KAPAN WAKTU DETEKSI..?

Deteksi birahi dilakukan minimal 30 menit pada pagi hari dan sore hari pada saat melakukan Manajemen

DETEKSI BIRAHI SECARA PALPASI

 ADANYA KONTRAKSI UTERUS
 TERDAPAT PERKEMBANGAN FOLIKEL DE GRAAF
 DAN CORPUS LUTEUM YANG MULAI MENGERAS

BIRAHI TENANG ( Silent Heat)

 TIDAK MENUNJUKKAN GEJALA BIRAHI SECARA KLINIS, TETAPI TERJADI OVULASI
 KURANGNYA SINTESA HORMON ESTROGEN OLEH SEL GRANULOSA DARI FOLIKEL DEGRAAF
 BANYAK DIJUMPAI PADA BIRAHI PERTAMA SETELAH MELAHIRKAN DAN PADA SAPI DARA, JUGA DAPAT TERJADI PADA SAPI YANG MENDAPAT RANSUM DI BAWAH KEBUTUHAN.

CARA MENDIAGNOSA BIRAHI TENANG

 MENGGUNAKAN JANTAN PENGUSIK
 DENGAN MENGGUNAKAN VAGINA SPEKULUM AKAN KELIHATAN ADANYA HIPERAEMIA PADA MUCOSA VAGINA, ADANYA SEDIKIT LENDIR DAN RELAKSASI DINDING CERVIK
 DENGAN VALVASI RECTAL AKAN DI DAPATKAN FOLIKEL DE GRAAF ATAU CORPUS LUTEUM HEMORAGIKUM

Faktor berpengaruh pada keberhasilan reproduksi

 Kondisi umum sapi
 Ketepatan deteksi berahi
 Proses perkawinan
 Kesehatan saluran reproduksi
 Kualitas sperma dan oosit

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Komentar

Filed under Uncategorized